Topoin.com - Siang ini aku betul-betul pasrah pada dunia. Sekiranya akan terjadi kiamat pun, aku sepertinya akan siap menghadapinya. Tanganku terentang pasrah dan sesekali mencari pegangan. Tapi yang kutemukan hanya lantai licin yang basah oleh keringat kami. Lalu ketika kutemukan sebuah ‘pegangan’ dari bagian tubuhku sendiri, aku pun akhirnya meloco milikku sendiri meningkahi nikmatnya sodokan-sodokan yang dibuat Om-ku dari depan.
Tubuhku beberapa kali sempat menggelinjang hebat merasakan rangsangan yang datang dari bagian depan dan bawah selangkanganku. Tapi Om Wijoyo sama sekali tidak berusaha menahan liarnya gerakan tubuhku. Dibiarkannya aku menggeliat-geliat di atas lantai yang telah licin oleh keringat, sementara ia sendiri terus asyik berpacu laksana kuda jantan lepas kendali. Sesekali terdengar suara kecipak yang ramai. Aku tak tahu apakah itu suara kecipak punggung basahku yang beradu dengan lantai licin ataukah kecipak pahanya ketika membentur-bentur bukit pantatku.
Berkali-kali aku merintihkan nama Om-ku, tapi ia seperti tak peduli lagi. Karena aku juga memang tak bermaksud memanggilnya. Ia pun beberapa kali menyebut-nyebut namaku dalam suara yang terdengar seperti desahan. Kelihatan sekali ia sangat kenikmatan. Sesekali bisa kurasakan tubuhnya bergetar menahan desakan birahinya.
Lantai benar-benar telah basah oleh peluh kami berdua. Rambut Om Wi’ yang ikal tampak menjuntai basah dan sebagian jatuh ke keningnya. Air tampak menetes-netes dari ujung kumisnya, menimpa perutku yang juga sudah basah oleh keringatku sendiri. Lalu di luar dugaanku, Om Wi’ merebut batang kemaluanku yang tengah kukocok dan kini gantian ia yang mengonani diriku. Aku tersentak oleh betotannya. Gerakan tangannya menjadi lebih liar dan kasar, tapi rasa nikmat yang diberikan lebih sensasional.
“Ooohh.. Oohh..” berkali-kali aku mengeluarkan suara-suara yang tak jelas maknanya.
Aku tak mengerti mengapa rasa nikmat itu sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Rasanya bahasa tubuh dan suara mulut kami berdua lebih bisa mengekspresikannya. Om Wi’ sendiri terus menggeram dan mengerang bagai singa liar tengah mengawini betinanya. Matanya yang biasanya teduh itu kini tampak memicing buas.
Sesaat ruang tengah guest house itu menjadi arena lenguhan dan erangan tertahan yang keluar dari mulut kami berdua. Dan lenguhanku akhirnya berujung pada desahan panjang ketika aku tak bisa membendung lagi muncratnya air kenikmatan dari ujung kepala kemaluanku. Memancar, muncrat dan meleleh, membasahi tangan Om Wi’ yang terus saja mengurut-urut batang milikku. Sesaat kemudian tangannya menggenggam bagian kepala kemaluanku yang sedang dalam kondisi sangat sensitif itu, kemudian meremasnya dengan lembut. Sentuhan terakhirnya itu membuat tubuhku bergidik hebat, tersengal dan aku memohon-mohon dia untuk menyudahi remasan tangannya itu.
Artikel Terkait
Om Wijoyo lalu melepas tangannya dan mencabut miliknya sendiri untuk kemudian dikocok-kocok di atas perutku. Tak beberapa lama kemudian ia mulai menggeram tak karuan. Dalam posisi berlutut sambil mengocok seperti itu pantatnya tampak maju mundur dan mengejang-ngejang seolah menahan sesuatu yang ingin keluar.
Hingga akhirnya suaranya makin meracau dan berujung pada sebuah teriakan tertahan ketika semburan cairan putih kental beberapa kali menyemprot ke arah dada dan perutku. Sejenak kubiarkan ia tenggelam dalam puncak syahwatnya sebelum akhirnya tanganku, Lanjut baca!

0 Response to "Viral Cerita Anal Sex Saat Bertemu di Jogja 4"
Posting Komentar